101 : Gagal di Pesantren
Gagal di Pesantren
ditulis Iqbal Harfi Munthe
11 Februari 2021
01 : 15 WIB
Medan
---------------------------
Sebagai anak bungsu dari 7 bersaudara, saya lahir dengan mendapatkan banyak kasih sayang dan curahan perhatian dari 2 abang saya dan 4 kakak perempuan dan tentunya orangtua kita. Perjalanan yang membuat saya jauh dari rumah dimulai percobaan masuk ke pesantren yang berakhir gagal, alasannya mengapa akan dijelaskan di paragraf berikutnya, mari kita mulai.
2010 adalah masa pendidikan SMA bagi saya yang dari SMP ingin bersekolah di pesantren karena melihat saudara sepupu bisa berpidato dengan tangkas, lengkap dengan dalil dan sesekali guyonan yang membuat telinga tidak bosan mendengarnya, dan akhirnya kesempatan itu berujung kesepakatan untuk bersekolah disana, orangtua saya merestui, membiayai keberangkatan yang mungkin hari ini saya tahu biayanya tidaklah kecil, harus meminjam uang tetangga mungkin, atau paling tidak tabungan yang lama sudah mereka simpan, begitulah jalan ceritanya. Hari pertama di pesantren sangat menyeramkan, tidak seperti yang saya bayangkan dengan kesahajaan seperti di sinetron dan buku - buku sukses yang saya baca sebelumnya.
Pengalaman seperti bangun pukul 04 : 45 WIB dimana hari - hari saya masih tidur saat dirumah, lauk makan siang yang kami sering menyebutnya kawat sambal karena kering dan keras, belum lagi sore setoran hafalan dan kosakata yang saat kamu berucap menggunakan bahasa Indonesia akan dihukum meskipun tak disengaja. Minggu pertama sangat berat, tangisan malam demi malam, yang awalnya saya harapkan tidak bersambut tangan, mulai tidak betah dengan kamar mandi yang panas karena tanpa atap, makan siang yang diburu - buru, mandi sore yang hanya 15 menit termasuk dengan berpakaian, belum lagi kitab - kitab yang masih meraba, fokusku terpecah, jalan pintasnya adalah menelpon orangtua dan minta pulang, dengan tangis sesenggukan tentunya.
Saya lupa persisnya genap berapa bulan saya di pesantren, tapi kenangannya membekas dengan kokoh terhujam di pribadi, atmosfer kehidupan pesantren yang sangat berbeda dengan rumah membuatku semakin nyaman dengan rumah. Sesampainya dirumah tidak banyak cerita mengapa aku memutuskan pulang dan orangtuaku pasti sangat mengerti bahkan sebelum aku menceritakannya.
2010 sampai 2013 kuhabiskan keseharian di rumah, pagi sampai siang bersekolah di 12 km jaraknya dari rumah, pulang pukul 14.00 WIB sering kuhabiskan dengan tidur siang, mamak sering memarahi untuk lebih rajin keluar rumah, dulu sebal mendengarkan pidato singkatnya tapi sekarang jarang sekali didapati, jauh dari rumah menghindari pidato itu ternyata tak membuat tenang, sulit dijelaskan. Selama 2 tahun terakhir aktif dalam organisasi pelajar yang akan saya ceritakan di kisah lainnya, mengajarkan kemandirian, meskipun tidak sefrontal pesantren tapi berhasil membuatku merasa terlatih dan semoga terdidik untuk yakin tidak meminta pulang saat memutuskan untuk kuliah di kota besar berikutnya.
Paragraf penutup seri pertama cerita saya sebagai bungsu saat sekolah menengah atas adalah jajan 5 ribu untuk 2 hari, cukup untuk mengganjal perut dengan bakwan pakai saos merah yang saya yakin banyak dicampur air karena kadang sudah kurang pedas, pandai - pandai membagi uang jajan yang lebih dari cukup itu, kadang berlebih diberi 10 ribu untuk 2 hari, seperti hari raya, tapi kenangan itu cukup membuatku bersyukur betapa hebatnya aku di hari itu, bisa menjalankan kepercayaan bapak dan mamak untuk belajar, menghormati guru dan menggapai cita - cita, untuk bab cita - cita akan kita kaji lebih dalam selanjutnya.Saya memilih penjurusan IPS yang sering dianggap kumpulan anak nakal dan bodoh, padahal di kelas X saya juara kelasnya, wali kelasnya protes untuk keputusan itu tapi selama orangtua saya merestui dan mempercayai keputusan yang saya buat sudah dikalkulasikan, jalan saja, begitulah 2 tahun terakhirku di jenjang SMA dengan warna warni remaja yang bersemangat untuk menebus kesalahan pulang dari pesantren di tahun yang sama.
Sebagai pesan, saya tak pernah menyesali kepulangan dari pesantren, tidak bangga juga tapi yang bisa saya yakini adalah orangtua saya selalu ada di balik keputusan - keputusan besar dalam hidup saya, mungkin waktu itu masih cengeng, manja dan tidak bisa tidur saat mati lampu, sekarang saya sangat mensyukurinya karena 3 tahun SMAku dekat dengan orangtua, semakin banyak kenangan yang saya bisa ingat sebagai kasih sayang mereka yang begitu kokoh. Mari aku ceritakan lebih lanjut bagaimana perjalanan penghujung SMA ku di bagian berikutnya ya.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar